Aku menaruh namamu
di antara jeda baris puisiku,
bukan untuk kau temukan,
tapi agar aku sendiri
tak lupa bahwa pernah ada rasa
yang tak pernah sempat bersuara.
Kau tahu aku menulis,
tapi mungkin tak pernah benar-benar peduli.
Dan aku pun sadar,
aku hanyalah huruf samar
di balik riuh duniamu yang tak sempat
menoleh padaku.
Aku mencintaimu diam-diam
dalam doa yang tak menyebut nama,
dalam bait yang tak pernah terkirim,
dalam luka yang kusulap jadi indah
agar tak tampak menyedihkan.
Setiap kata yang kubuat tentangmu
sesungguhnya adalah air mata
yang kucetak jadi huruf,
supaya dunia mengira aku puitis,
padahal sebenarnya
aku hanya berusaha menyembunyikan runtuhku.
Dan pada akhirnya, aku mengerti
kau bukan milikku,
kau hanyalah tokoh yang tak pernah keluar
dari halaman-halaman cerita.
Namun tetap, di balik setiap puisiku,
kau akan selalu ada
meski kau tak pernah benar-benar membaca
atau merasa.